Sabtu, 09 Februari 2013

makalah makiya dan madaniyah


Di ajukan untuk memenuhi tugas kelompok ulumul qur’an




Dosen pembimbing : Drs. H. Nanang Naisabur, MH

Disusun oleh:
Deden heryanto

FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-FALAH
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang................................................................................................................2
B.Rumusan Masalah...........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian. 3
B. Pembagian Dari Segi Mukhotobnya. 3
C. Faedah Mengetahui Surat Makiyah dan Madaniyah. 4
D. Cara-Cara Mengetahui Surat Makiyah Dan Maddaniyah. 5
       E. Ciri-Ciri Surat Makiyah Dan Surat Madaniyah..............................................................6
       F. Surat Makiyah Dan Madaniyah Serta Surat-Surat Yang Diperselisihkan......................7
       G. Jenis-Jenis Kategori Surat Makiyah Dan Madaniyah....................................................8
BAB III PENUTUPAN
        A. Kesimpulan....................................................................................................................9
        B. Daftar Pustaka..............................................................................................................10










BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
    pada masa turunnya ayat al-qur’an para sahabat tidak terlalu mengedepankan perbadaan antara ayat makki dan madani karena mereka (para sahabat) sudah mengetahui langsung ayat makki dan madani dari rasulullah SAW, sedangkan pada jaman sekarang orang orang kurang mengetahui perbedaan antara ayat makki dan madani , maka dari itu kami menganjurkan kepada seluruh mahasiswa atau seluruh umat muslim  untuk memperdalam/mengetahui tentang ayat ayat makki dan madani dari berbagai kitab kitab yang ada dan diantaranya dari makalah kami ini.




B.    Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian makki dan madani
2.     Apa perbedaan antara makki dan madani



C.   Tujuan
1.     Untuk mengetahui pengertian makki dan madani
2.     Untuk mengetauhi perbedaan antara makki dan madani








BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN
 Pengertian Surat Makiyah dan Madaniyah Ada tiga pengertian yang dipakai para ulama’ dalam mengartikan surat makiyah dan madaniyah, yaitu
1. Surat Makiyah adalah yang diturunkan di Makkah walaupun turunnya itu setelah hijrah. Yang termasuk turun di Makkah adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti di Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Sedangkan surat Madaniyah adalah yang diturunkan di Madinah. Yang termasuk turun di Madinah adalah seperti di kawasan Badar dan Uhud. Pembagian ini berdasarkan tempat turunnya Al-Qur’an (segi makani), tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan atau batasan, karena hal ini tidak mencakup ayat-ayat yang diturunkan di selain Makkah dan Madinah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya batasan dalam pembagian itu menyebabkan tidak masuknya sejumlah ayat yang diturunkan diantara keduanya. Dan yang demikian ini mengandung cacat.
2. Surat Makiyah adalah yang mengkhitobi penduduk Mekkah, sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhotobi penduduk Madinah. Dari pengertian ini, dapat difahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan ياايهاالناس adalah ayat Makiyah, dan ayat-ayat yang dimulai dengan ياايهاالذين امنوا adalah termasuk ayat Madaniyah. Karena kebanyakan orang kafir itu dari penduduk Makkah, meskipun dari penduduk Madinah juga ada yang kafir. Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan dari penduduk Madinah, walaupun dari penduduk Mekah juga ada yang beriman.

B. PEMBAGIAN DARI SEGI MUKHOTOBNYA

Pembagian ini didasarkan pada mukhotobnya (segi khitobi), tetapi ketentuan tadi mengecualikan dua hal :
1. Tidak adanya patokan dan batasan. Sebenarnya permulaan surat dalam Al-Qur’an tidak hanya dimulai dengan salah satu kedua lafadz tersebut. Sebagaimana dalam permulaan suratal-Munafiqun: اذاجاءك المنافقون قالوانشهدانك لرسول الله والله يعلم انك لرسوله والله يشهد ان المنا فقين لكادبون. (المنا فقون:1) Artinya : “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu,mereka berkata:”Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Allah”. Dan Allah mengetahui sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya; Dan Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.(QS.Al-Munafiqun:1).[1]
 2. Pembagian ini tidak berlaku secara umum dalam kedua sighot tersebut, melainkan terdapat ayat-ayat Madaniyah yang dimulai dengan sighot “Yaa Ayyuhan Naasu”dan terdapat ayat-ayat Makiyah yang dimulai dengan “Yaa Ayyuhal Ladziina Amanu”. Contoh yang pertama QS. An-Nisa’. Sebenarnya surat ini termasuk surat Madaniyah, namun permulaannya “Yaa Ayyuhan Nasu taku Robbakum”. Sedangkan contoh yang kedua adalah QS. Al-Hajj. Sebenarnya surat ini termasuk dalam kelompok surat Makiyah. Namun pada bagian akhir terdapat : يـــا ايها الذ ين امنوا ار كعوا واسجد وا . Sehingga sebagian ulama mengatakan, apabila yang dimaksud adalah sebagian besar ayat itu dimulai dengan ungkapan tersebut, maka yang demikian itu adalah benar.
3. Ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum nabi hijrah, walaupun turunnya di lain kota Mekah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah nabi hijrah, walaupun turunnya di Makkah. Pembagian ini dilihat dari waktu turunnya (segi zamani). Pembagian ini adalah pembagian yang benar dan selamat dari cacat, karena di sini terdapat patokan dan batasan yang barlaku secara umum.Oleh karena itu,kebanyakan ulama’ berpegang pada pendapat ini. Sebagaimana firman Allah SWT:
 اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا  Artinya : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamu,dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.(Al-maidah:3) [2]Ayat ini diturunkan pada hari Jum’at di Arafah ketika haji Wada’, tetapi ayat ini termasuk ayat madaniyah. 

C. FAEDAH MENGETAHUI SURAT MAKIYAH DAN MADANIYAH

1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan mentafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan mana nasikh dan mana mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Contoh: والذين يتوفّون منكم ويذرون ازواجا وصية لازوجهم متاعا الى الحول(البقرة :240) Dinasikh dengan ayat: يتربصن بانفسهن اربعة اشهر وعشرا(البقرة :234)  
2. Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri.
3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rosululloh sejalan dengan sejarah dakwah beserta segala peristiwanya.
4. Mengetahui tarikh tasyri’ dan pemantapan dalam mentasyri’kan hukum secara umum.                                                     5. Percaya bahwa AL-Qur’an telah sampai kepada kita terhindar dari perubahan dan pembelokan. Oleh karena itu perlu bagi orang-orang islam mengetahuinya dengan seksama, sehingga mereka bisa mengatahui, dan kemudian beralih mengetahui ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah dan sesudah hijrah, ayat-ayat yang diturunkan pada siang hari dan pada malam hari, demikian juga tentang yang diturunkan di waktu malam, di waktu siank,diturunkan secara bersama-sama[3]
 6. Agar dapat meningkatkan keyakinan terhadap kebenaran, kesucian dan keaslian al-Qur’an.
Dr Subhi Shalih dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” mengatakan bahwa faedah dari ilmu ini adalah:
1. Dapat mengetahui fase-fase dari da’wah islamiyah yang ditempuh oleh Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan sangat bijaksana.
2. Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya masyarakat Mekkah dan Madinah.
3. Dapat mengetahui Uslub-uslub bahasanya yang berbeda, karena ditujukan kepada golongan-golongan yang berbeda.[4]

 D. CARA-CARA MENGETAHUI SURAT MAKIYAH DAN MADDANIYAH.

Untuk Mengetahui Surat Makiyah dan Madaniyah para ulama’ bersandar pada dua cara utama :
1. Sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya),
yakni melalui riwayat yang berasal dari sahabat dan tabi’in, karena Nabi saw. Tidak pernah menjelaskan ayat Makiyah dan Madaniyah. Hal ini karena umat Islam pada waktu itu tidak memerlukan keterangan seperti itu. Bagaimana mereka masih memerlukannya? Padahal mereka menyaksikan sendiri diturunkannya wahyu dan Al-Qur’an, menyaksikan tempat turunnya, waktunya, sebab-sebab diturunkannya secara jelas. “Yang sudah jelas tidak memerlukan penjelasan lagi.”
2. Qiyasi ijtihadi (qiyas hasil ijtihad),
yakni didasarkan pada ciri-ciri Makiyah dan Madaniyah.

E. CIRI-CIRI SURAT MAKIYAH DAN SURAT MADANIYAH

Ciri-ciri khas untuk surat Makkiyah dan surat Madaniyah ada 2 macam, yaitu yang bersifat qath’i dan bersifat aghlabi.
A.  Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i dari surat Makkiyah adalah:
1. Setiap surat yang mengandung ayat sajdah.
2. Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadh “kalla”. Lafadz ini di dalam Al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat dan kesemuanya itu dalam separuh Al-Qur’an yang akhir.
3. Setiap surat yang terdapat seruan ياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj ayat 77.
 4. Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali Surat Al-Baqarah.
5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Idris, kecuali surat al-Baqarah.
6. Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf hija’iyah), kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’d ada dua pendapat. Jika dilihat dari segi uslub dan temanya, maka lebih tepat dikatakan surat Makiyah, tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan surat Madaniyah.
B. Adapun ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi dari surat Makkiyah adalah:
1. Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek-pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak.
2. Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah SWT dan hari akhir serta menggambarkan keadaan surga dan neraka.
3. Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempeng diatas jalan kebajikan.
4. Mendebat orang-orang musyrikin dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka.
 5. Banyak terdapat lafadh qasam (sumpah).


C. Sedangkan ciri-ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat qath’i adalah sebagai berikut:
1. Setiap surat yang mengandung izin berjihad, atau ada penerangan tentang jihad dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
2. Setiap surat yang menjelaskan secara terperinci tentang Hukum Pidana, Fara’idh, Hak-hak Perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
3. Setiap surat yang didalamnya menyinggung hal ihwal orang munafiq, kecuali surat Al-Ankabut.
4. Setiap surat yang mendebat kepercayaan ahli kitab, dan mengajak mereka tidak berlebih-lebihan dalam beragama.
D. Selain empat ciri di atas, ada lagi ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat aghlabi, yaitu sebagai berikut:
1. Suratnya panjang-panjang, dan sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang serta jelas dalam menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang.
 2. Menjelaskan secara terperinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat keagamaan.

F. SURAT MAKIYAH DAN MADANIYAH SERTA SURAT-SURAT YANG DIPERSELISIHKAN.
 Di dalam kitab Al-Itqon, Imam As-Suyuti banyak mengutip pendapat para ulama’ dalam menentukan surat-surat yang termasuk dalam kategori Makiyah dan Madaniyah. Diantara pendapat yang paling sesuai adalah yang dikemukakan oleh Abu Al-Hasan dalam kitabnya “Al-Nasikh wa Al-Mansukh”. Beliau mengatakan, berdasarkan kesepakatan ulama’ bahwa surat-surat Madaniyah itu ada 20 surat, yaitu : Al-Baqoroh, Ali ‘Imron, An-Nisa’, Al-Maidah, Al-Anfal, At-Taubah, An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Al-Jumu’ah, Ak-Munafiqun, At-Talaq, At-Tahrim dan An-Nashr. Sedangkan yang diperselisihkan ada 12 surat, yaitu: Al-Fatihah, Ar-Ro’d, Ar-Rohman, As-Shaff, At-Taghabun, At-Tatfif, Al-Qodar, Al-Bayinah, Al-Zalzalah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Selain yang disebutkan di atas adalah surat Makiyah, yaitu 82 surat. Maka jumlah surat-surat Al-Qur’an itu semuanya ada 114 surat. [5]

G. JENIS-JENIS KATEGORI SURAT MAKIYAH DAN MADANIYAH
Terkadang satu surat semua ayatnya Makiyah, atau semua ayatnya Madaniyah. Terkadang juga surat Makiyah sebagian ayatnya bukan Makiyah, atau surat Madaniyah sebagian ayatnya bukan Madaniyah. Dan masih banyak lagi jenis kategori yang lainnya.























BAB III
 PENUTUPAN

A. Kesimpulan
    Mengambil kesimpulan dari apa yang sudah dipaparkan diatas surah makiyah itu surah yang diturun di mekah sebelum hijrah rasulullah SAW, surah madaniyah surah yang diturunkan di madinah dan sesudah hijrah.  Adapun ciri-ciri surah makiyah dan madaniyah
A.  Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i dari surat Makkiyah adalah:
1. Setiap surat yang mengandung ayat sajdah.
2. Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadh “kalla”. Lafadz ini di dalam Al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat dan kesemuanya itu dalam separuh Al-Qur’an yang akhir.
3. Setiap surat yang terdapat seruan ياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj ayat 77.
 4. Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali Surat Al-Baqarah.
5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Idris, kecuali surat al-Baqarah.
6. Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf hija’iyah), kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’d ada dua pendapat. Jika dilihat dari segi uslub dan temanya, maka lebih tepat dikatakan surat Makiyah, tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan surat Madaniyah.
B. Sedangkan ciri-ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat qath’i adalah sebagai berikut:
1. Setiap surat yang mengandung izin berjihad, atau ada penerangan tentang jihad dan penjelasan tentang hukum-hukumnya.
2. Setiap surat yang menjelaskan secara terperinci tentang Hukum Pidana, Fara’idh, Hak-hak Perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan.
3. Setiap surat yang didalamnya menyinggung hal ihwal orang munafiq, kecuali surat Al-Ankabut.
4. Setiap surat yang mendebat kepercayaan ahli kitab, dan mengajak mereka tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

B. DAFTAR PUSTAKA
1.      al-qur’an al-karim
2.      studi ilmu-ilmu al-qur’an / ma’na al-qattan; diterjemahkan dari bahasa arab oleh Drs. Mudzakir AS
3.      Mabahis fi Ulumul Qur’an, oleh subhi as-salih
4.      Al-Ihkam, oleh Al-Amidi


[1] Al-qur’an al-karim
[2] Al-qur’an al-karim
[3] Seperti diriwayatkan mengenai beberapa surah dan ayat, misalnya surah al- an’am [6], al fatihah [1], dan ayat kursi.
[4] Dr. Subhi shalih dalam bukunya “mabahits fi ulumil qur’an
[5] Abu Al-Hasan dalam kitabnya “Al-Nasikh wa Al-Mansukh”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar